Saya masih ingat betul-betul apabila kakiku berhasil menapak kembali pada stasiun Rabu tile Gubeng, membawa ransel penuh dengan penentuan dan menemukan rimba metropolitan Surabaya.

-Gelar sarjana hanya memperoleh di perguruan tinggi – telah berhasil melahirkan. Walaupun memori sintaks dan logika algoritma untuk pergi bersama-sama dengan kelulusan ini. Saya ingat lagi tentang ibu-ibu yang tekun, soto penjual mendorong gerobaknya sore hari awal atau bapak penjual mainan melainkan tidak pernah menjual jualannya bahkan menjadi pembangun tempat parkir di depan farmasi. Saya berkaitan dengan orang-orang yang menunjukkan kesederhanaanya dalam kehidupan sehari-hari. Saya beruntung. Dan sekarang mereka menjadi teman-teman dekat kepadaku. Sekarang kita tidak bercela, menjadi sebuah keluarga.

Sebab aku hidup mereka adalah nyata dari ‘universitas visual’ yang menjadi pekerjaan rumah yang kadang-kadang saya pikir di malam hari. Isu-isu sebenar kehidupan di mana kita yang membawa gelaran ‘properti intelektual’ harus membantu solusi.
Saya yang sekarang adalah hasil akulturasi untuk Banyuwangi, kota tempat saya dibesarkan dan Surabaya, kota di mana saya merasa hidup saya dimulai. Saya memutuskan untuk berpindah ke Jogja sekitar setahun yang lalu, mencari bahan-bahan untuk refleksi malam. Saya tahu bahwa saya akan kehilangan mereka, teman-teman saya, dan sesungguhnya aku akan kehilangan Surabaya, kota ditempa panas dalam tata surya. Banyak hal-hal yang saya ingin pergi ke sana dan tidak diganti di mana saja.
Aku rindu perkataan jancuk, ‘antara’ yang telah merembet masuk saya. Perkataan ini begitu menakjubkan di sini. Sebagian orang mungkin bahkan tidak memahami ini berarti bahwa hanya berkata begitu.
Ketika anda pertama kali datang ke Surabaya aku masih mau mengucapkan kata-kata ini. Lidah masih bisu. Suara masih kasar dan penuh kekerasan menurut saya. Kenyataannya di Banyuwangi jancuk mengatakan, tetapi tidak seperti ini sering sebagaimana diucapkan oleh orang-orang di Surabaya, dan masih cukup tabu bagi kita -Banyuwangi- mengucapkannya. Tetapi akhirnya saya mulai terbiasa untuk mendengarnya.
Untuk-Ku perkataan ini tidak senajis dan kurang fleksibel sementara bahwa orang tentang. Perkataan ini bisa berarti ekspresi takut atau keheranan. Bila Anda merasa kesal dan kata-kata amarah itu benar-benar dapat mengubah kemalangan ketika berbicara pada lawan bicara. Tetapi ketika dengan teman-teman dan mengumpulkan, ‘jancuk’ menjadi simbol keakraban. Tentu saja tidak semua orang di sini seperti dengan perkataan ini, kata-kata yang masih dianggap ‘dirty’ dan ” yang kasar. Tetapi tidak orang yang bijak, pernah berkata bermakna perhentian dalam orang, bukan kata-kata? Ini adalah tentang bagaimana seseorang mendefinisikan kembali sebuah kata.
Perkataan ini adalah seperti virus, dan terinfeksi penyakit menular pada setiap orang yang datang ke Surabaya. Sekarang saya telah terbiasa untuk mengucapkannya. Lidah ini tidak lagi bisu, cenderung untuk mengkonversikan bahkan.
Tetapi, untuk Yogyakarta, di mana saya memperoleh sekarang, jancuk masih terlalu ‘sakral’ ke mulut. Saya tidak berani untuk menggunakannya di sini.
Cuk, saya begitu didambakan bersama-sama dengan teman-teman saya, mendengarkan mereka berbicara ‘jancuk’, ‘jancok, ‘cuk’, ‘cok’, ‘dancuk’, ‘dancok’, atau apa pun.
Kesederhanaan di tengah selama kesemarakan modernitas
ada sebuah restoran kecil yang menjadi favorit saya di Surabaya. Toko yang sangat sederhana. Berdiri di atas lantai batu dengan sebuah gerobak dari kayu dan terpal tenda-tenda, tinggal di seluruh Sate Klopo populer yang sudah melegenda Ondomohen. Toko ini menawarkan beberapa jenis makanan khas Jawa Timur seperti nasi pecel, rawon, Sayur Lodeh, krengsengan, sup ayam dan kari ayam. Minuman favorit di sini adalah es Blewah dengan bagian kaca besar. Apakah dari yang mereka dapatkan blewah, yang biasanya buah hanya dapat ditemukan di bulan Ramadan saja. Mereka mendapatkan setiap hari. Sebelum lampu karena tidak ada pangan di sebelahnya, penjelasan yang redup tampak redup tenang. Tetapi tidak untuk kita, warung ini tetap tenang untuk aku.
Dapatkan komentar menarik lainnya tentang BANYUWANGI , tulisan lain Bayu Topan
bergabung dengan komunitas Phinemo, mengumpulkan poin untuk berbagi pengalaman di jalan anda dan tukarkan dengan upah Mitra Phinemo. ->
Rekomendasi Bergabung Sekarang